Oleh: Vera Martini*
Pendidikan gratis, murah dan berkualitas adalah dambaan setiap orang, bagaimana tidak,apalagi di zaman seperti sekarang yang serba mahal, masyarakat mengharapkan sekolah gratis dan mempunyai bobot yang tinggi ya ujung-unjungnya berkualitas juga, akan tetapi sekarang saja untuk sekolah TK orang tua harus merogoh kocek jutaan rupiah, itu baru TK belum lagi SD, SMP, SMA dan serterusnya sampai perguruan Tinggi.
Dari laporan dari Kompas (10/5/2005) dana pendidikan masih simpang siur, aneh karena dana untuk pendidikan ini ternyata sudah terpotong hingga 8%. Padahal seharusnya menurut ketentuan UU pasal 21 besarnya dana pendidikan yakni mencapai 20%. Masalahnya sempat tersendat yakni dana ini untuk bayar utang, karena bunga utang sebesar 30%, sehingga dapat dikatakan lebih besar bayar bunga utang daripada dana pendidikan.
Dalam APBN 2007 anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 90 triliun atau sekitar 11,8& dari total nilai anggran sebesar 763,6 triliun, ini belum termasuk dana pengeluaran untuk gaji guru yang menjadi bagian dari alokasi umum dan alokasi khusus untuk sektor pendidikan serta anggaran kedinasan.Pertanaannya kira-kira bisa tidak pemerintah melaksanakannya, kalau menurut saya dnnganteggas saya katakan pasti dapat, ya karena negara kita adalah negara yang kaya raya, jangankan itu untuk daerah kabupaten Jembaran saja bisa mengratiskan sekolah, karena omset penghasilan derah mere berlebih, itu baru jembara, belum lagi pulau kalimantan di Banjarmasin terkenal dengan banyaknya batu bara, kalimantan timur dengan minyak bumi, sert derah kaliomantan yang lainnya.
Lebih pasnya lagi setidaknya pemerintah pusat langsung yang mengratiskanya, seperti yang terjadi di Negara Brunei, bukan saja gratis mereka para peljar malah di kasih uang, padahal Brunei adal;ah negara yang sejemput dan kecil tapi bisa mengratiskan sekolah. Jadi tidak perlu kuatir tentang dan pak presiden, asalkan bapak mampu menjslsninys dengan tanpa bantuan orang-orang yang curang, dan ini pasti bisa.
Dari data yang di dapat untuk hasil potensi hutan yang berupa kayu(data 2007) sebesar U$$ 2,5 miliar,(sekitar 25 trilun), kemudian potensi hasil hutan berupa ekspor tumbuhan dan satwa liar (data 199)sebesar 1,5 miliar(sekitar 15 trilun), Potensi pendapatan emas di Preepot(data2005)sebesar U$$ 4,2 miliar(sekirar 40 triliun) dan terakhir pendapatan igas Blok Cepu pertahun sebesar U$$700 juta-U$$ 1,2 miliar (sekitar 10 triliun), dan setelah hitung punya hitung hasil dari empat potensi di atas ternyata tidak lebih dari cukup, kalaupun masih kurang sumber dananya kita bisa memakai sember alam yang lain karena negara negara kita kaya akan sumber daya alam, dan utamanya lagi adalah para pejabat yang di beri tugas ini, agar tidak terjadi yang namanya KKN.
Pendidikan mahal bukan karena tidak adanya sumber dana melainkan karena kita tidak bisa mengelola sumber daya alam kita dengan baik dan cenderung selalu menyerahkannya kepada asing karena kita bisa untuk mengelolanya sendiri, dan kalau bangsa kita ini cerdas dan piontar siapa juga yang untung, kalau bangsa ini ingin cerdas dan pintar maka mulkai sekaranglah pendidikan kita di gratiskan karewna ini sangat memungkinkan, Ini semua juga di perlukan peran serta dukungan daripemerintah yang sehat yang berdaya guna dan konsisten melaksanakan amanah yang di embannya.
Vera Martini
Mahasiswa Bimbingan Konseling dan KP EWA’MCo




No comments yet
Comments feed for this article